KLENUK KLENUK DI ERA EKSPONENSIAL

KLENUK KLENUK DI ERA EKSPONENSIAL
Oleh: Gempur Santoso
(Gubes UMAHA)
Setidaknya: santai, serius, seimbang, sukses. Disingkat 5S. Boleh yang lain.
Tiap hari lakukan dengan santai atau enjoy. Kerjakan rutin konsentrasi atau serius saat sesuatu dikerjakan. Bahasa Jawa glethuk (santai kerjakan terus).
Tentu harus seimbangan antara kapasitas/kemampuan tubuh dengan tugas yang kita kerjakan. Tetap ikhtiar. Kesuksesan adalah harapan, sebab buah sukses ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Dulu, waktu ngaji atau belajar pendidikan agama. Bermain sebaya. Ada sebutan “mengko suwe suwe uwong  koyo gabah diinteri”. Artinya: nanti manusia makin lama makin sibuk dan semakin super sibuk. Itu tampak ada benarnya saat ini.
Sibuk apa?
Ada yang sibuk sebagai obyek. Ada pula sibuk sebagai subyek.
Sibuk sebagai obyek. Itu selalu melaksanakan perintah atas kehendak yang berwenang. Ada istilah “mandiri”, semua dilakukan sendiri. Pakai aplikasi, online, digital, dan lain-lain. Serba pakai program “digital mandiri” (dilakukan sendiri).
Termasuk, misal: berbagai webinar, berbagai seminar online, berbagai daring, isi data, kirim data, dan lain lain. Semua butuh waktu. Semua butuh alat. Semua butuh pulsa. Dan, macam macam aktivitas membuat sibuk. Mudah, cepat. Mungkin ini jaman menuntut.
Jaman online beserta aplikasinya tampak membuat orang semakin sibuk. Saking banyaknya.
Di berbagai jalan pun semakin padat kendaraan. Sebagai sarana transportasi, manusia sibuk akan bekerja. Atau pun sedang bekerja menggunakan/lewat jalan.
Terjadilah berbagai kesibukan. Sibuk bekerja melakukan, juga berfikir, pun program yang lain penyebab sibuk.
Sibuk sebagai subyek. Ini para manusia berwenang juga sibuk membuat program. Berbasis online. Membuat program aplikasi baru – online. Program memperbaiki aplikasi – online. Semua serba online. Dan lain lain. Tentu saja atas kehendak subyek pun memiliki efek obyek semakin sibuk.
Subyek merasa top. Merasa terdepan. Dan, merasa lainnya. Demi eksistensi. Terjadilah kalang kabut bagi obyek bahkan super sibuk, banyak yang dikerjakan. Mindset “tututan jaman”.
Seperti murid saya pernah bercerita. Bahwa bosnya (pimpinan). Menghendaki tender pekerjaan (proyek) harus online. Itu perintah subyek.
Ke sana ke mari. Karyawan sebagai anak buah sebagai obyek. Mencari programer. Program aplikasi yg dibuat harus disesuaikan sarat tender dan sistem kontrolnya. Agar tidak mengalami rugi, juga aman pakai online.
Jaman ditemukan online ini. Semakin banyak programer membuat aplikasi. Semakin semua pakai aplikasi online. Terasa semakin sibuk, “koyo gabah diinteri”.
Temuan baru belum tuntas dilaksanakan. Muncul lagi temuan baru. Seperti temuan aplikasi baru belum tuntas dilaksanakan, muncul aplikasi lain yang baru. Membuat sibuk. Terus download/update dan bahkan update pada fungsi yang sama. Banyak pendapat bahwa jaman yg membuat sibuk tidak linier ini disebut era eksponensial.
Bahkan update secara rutin. Pada hal terntentu, menjadi trend ekonomi pengumpulan keuntungan – dana.
Tetapi di tengah jaman semakin sibuk ini. Tetangga saya tampak tak mengenal sibuk. Usia tetangga saya ini sudah sekitar tujupuluh tahun. Sudah sepuh (tua). Lebih tua dari umur saya.
Tetangga saya, tua, setiap manjing (menjelang) adzan waktu shalat. Sudah berangkat ke langgar (mushola), jarak sekitar 1,5 km. Klenuk klenuk (berjalan pelan hati hati). Itu setiap hari, setiap lima waktu shalat. Saat libur (longgar) saya ikut membututinya.
Dia sehat selalu. Juga tak kekurangan sandang pangan. Sederhana. Tak mengenal handphone apalagi online yang lain.
Semoga semua selamat di dunia dan akherat, serta sehat selalu…aamiin yra.
(GeSa)